Berita  

Pimpinan Media Siap Jadi Agen Perubahan Dalam Pembangunan Ekonomi Biru

ASPEKSINDO.ONLINE — Dalam acara makan malam di Kedubes Seychelles dengan tim Eksekutif,  terjadi obrolan menarik.

Tak hanya soal wisata bahari, pengelolaan pesisir, perikanan bertanggung jawab, dan kawasan konservasi perairan.

S.S Budi  Raharjo MM dan tim ngobrol banyak, dengan pria yang terlibat aktif   dalam pembangunan ekonomi biru di negaranya.

Perbincangan tak hanya sebatas pengembangkan budi daya berbasis pada ekspor dengan empat komoditas unggulan di pasar global, yaitu udang, lobster, kepiting, dan rumput laut.

banner 336x280

Di tengah upaya itu, kita perlu terobosan yang akan memiliki multiplier effect bagi pembangunan nasional, selain sebagai penopang ketahanan pangan.

Budi Jojo yang sebagai Ketua Forum Pimpinan Media Digital punya usul, mengenai dilibatkannya organik media massa, termasuk konten kreator disuport menjadi agen perubahan.

Agen perubahan apa?

Ya, dalam  pentingnya menjaga ekologi, sesuai dengan dinamika dan tantangan yang dihadapi saat ini.

Pimpinan Media Sebagai Agen Perubahan

Terlintas di obrolan itu, Budi menyebut peran pimpinan media yang kerap memberi informasi harus lebih punya sharing pengalaman, dilibatkan lebih jauh dalam upaya ekonomi biru.

Kalau meliput untuk urusan mengembangkan destinasi wisata, seperti Maratua di Pulau Kalimantan. Atau jejaring hotel internasional kelas dunia,  sudah biasa.

Yang perlu di paska pandemi ini adalah personal, keterlibatan dari pimpinan media massa atau konten kreator juga dilibatkan sebagai bagian masyarakat madani,

Jurnalis sudah biasa jika diceritakan investasi asing dalam konteks, kekayaan laut Indonesia (blue bonds) sebagai upaya membangun sektor kelautan dan perikanan Indonesia yang berkelanjutan.

Usul Budi jojo, insan media perlu ikut lebih dalam serta terlibat aktif di tantangan wilayah pesisir dan pulau terluar. Agar bisa sharing pengalaman atau menjadi bagian bangun Indonesia dari pinggiran.

Indonesia adalah poros Maritim Dunia.

Pimpinan Media massa menjadi bagian yang ikut memikirkan, masuk dalam membangun gaya hidup positif di masyarakat pesisir  dan pulau terluar.

Dalam obrolan dengan Nico Barito, yang diangkat sebagai tokoh pembina di Aspeksindo.

“Kiranya media mendapat dorongan dan difasilitasi dalam program yang dirancang, melibatkan rekan-rekan media,” ujar Budi Jojo.

Pimpinan media di satu satu sisi menjadi pendorong agar muncul peluang bagi investasi.

Kehadiran pimpinan media ikut mendorong dan memfasilitasi kerjasama antara pemerintah daerah kepulauan dan pihak ketiga, tapi yang bersangkutan juga menjadi bagian dari program itu sebagai pendidik atau pelatih.

Contohnya, dalam mensosialisasikan program semacam membersihkan pantai dari sampah plastik.

Pimpinan media juga bisa menjadi pendamping, dalam melatih ibu-ibu merajut sampah menjadi berkah, atau sesuatu yang bisa bernilai. Sampah plastik bisa dijual dan menjadi income masyarakat pesisir.

Pimpinan media bisa mengundang menteri, tokoh perguruan tinggi atau socialpreneur untuk ikut dalam program meningkatkan kesejahteraan masyarakat ekonomi biru.

Tak sekedar urusannya press release saja. Tapi, ikut bersama dalam langkah nyata, membangun bank sampah, mengedukasi hingga ekonomi wilayah pesisir dan pulau terluar, lepas dari stigma kemiskinan.

Pimpinan media ikut turun langsung mengedukasi masyarakat, bukan saja di wilayahnya tapi terus menjadi bagian dari bersama-sama membangun kepedulian dan menjamin masyarakat pesisir tinggal di wilayahnya dengan sejahtera.

Catatan pinggirnya, Pimpinan media punya potensi, utamanya untuk mengajak rekan-rekan sesama organik di media dan komunitasnya ikut peduli dalam rencana dan strategi di lapangan, yang riel.

Bukan hanya masyarakatnya yang sejahtera tapi organik media juga perlu merasakan kesejahteraan, seperti yang dialami oleh masyarakat pesisir itu.

Pimpinan Media ikut melepas hambatan dan jadi pendamping dalam melepas kerumitan dan ego sektoral, tak hanya di proyek percontohan tapi dalam liputan dan sanubarinya terus mencari contoh baik di bangsa dengan pulau pulau ini.

Republik Seycelles bisa menjadi Role Model ini. Sebagai negara yang bisa hidup dari wisata bahari, turis datang ke daerah yang punya potensi kelautan dan perikanan, tanpa harus mengganggu habitat atau membawa ekosistem buruk.

Pimpinan media sebagai agen perubahan berperan mengawal, tidak sekedar meliput tapi misalnya aktif sebagai relawan bank sampah, contohnya. Tahu memilah sampah, menjadi orang yang berperan dan mengedukasi pemilahan sampah, dimulai dari pribadinya di rumah tangga.

Jika Republik Seyschelles punya program memilah sampah, melaksanakan daur ulang dan komunitas bersih di kawasan contoh Kulon Progo.

Kiranya mengadopsi program baik itu, bisa dilakukan untuk  kesejahteraan masyarakat pesisir.

Libatkan pimpinan media dalam mengedukasi masyarakat, tak membuang sampah ke laut. Tapi kemudian, memfasilitasi adanya bank sampah, misalnya dengan mendaur ulang sampah organik menjadi arang dan kompos.

“Ya, kalau memang ada program seperti itu. Kami senang dan sangat mendukung hal-hal baik yang dilakukan orang-orang baik semacam ini,” papar utusan Khusus Presiden Seychelles untuk ASEAN, HE Nico Barito.

banner 336x280
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *